Sabtu, 08 Januari 2011

Harta Karun Kerajaan Lingga Tercecer Di Pulau Kute

Batam ( Berita ) :  Harta karun bekas kerajaan Lingga terbengkalai dan tercecer di pantai berlumpur Pulau Kute, Lingga. Seorang pengumpul benda bersejarah Tengku Kelana mengatakan kepada ANTARA di Batam, Sabtu [19/04], pada musim-musim tertentu harta karun yang terpendam di tanah berlumpur muncul ke permukaan.

“Biasanya, usai musim hujan, setelah air laut pasang, barang-barang itu bermunculan ke permukaan tanah,” katanya. Hanya diperlukan kayu panjang untuk menemukan harta karun berupa keramik, patung-patung dan pernak-pernik peninggalan Kerajaan Lingga lain. Kayu panjang itu cukup ditusuk-tusukan ke dalam tanah berlumpur, bila kayu membentur benda keras, maka bisa dipastikan itu adalah harta karun.

Menurut Tengku, harta karun yang tersimpan di Pulau Kute tidak rusak meskipun berumur hingga ribuan tahun, karena karakteristik lumpur tidak merusak.”Kalau di pasir, keramik bisa bopeng-bopeng,” katanya.

Ia mengatakan harta karun yang ditemukan di Pulau Kute berasal dari kapal-kapal asing yang karam saat melintasi Selat Malaka, karena berbentuk teluk, maka sisa-sisa kapal yang tenggelam terkumpul di sana. “Mungkin juga berasal dari kapal perompak yang karam,” tambah dia. Karakteristik tanah yang berlumpur diperkirakan menahan benda sejarah itu tertahan saat air laut surut, sehingga tidak terbawa arus laut.

Tengku menemukan berbagai keramik berupa piring dan mangkuk serta aksesoris dan perlengkapan Kerajaan Lingga di antaranya cincin, gelang dan tempat celak (penghitam bulu mata). “Beberapa peninggalan kerajaan saya hibahkan ke Pemerintah kabupaten, tapi ada juga yang masih saya simpan, karena khawatir tidak terurus bila diletakan di museum,” katanya. Di rumahnya, terdapat beberapa keris khas Melayu peninggalan Kerajaan Lingga.

Dijual
Selain Tengku, warga Lingga lain menemukan patung Marcoplo yang kini telah dibeli warga Belanda. Beberapa warga Lingga menjadikan jual beli harta karun itu sebagai penghasilan tambahan, karena harga barang sejarah itu ditawarkan harga tinggi oleh rumah lelang di Singapura.
Setiap bulan, rumah lelang mengeluarkan daftar barang prasejarah yang dicari, berikut tawaran harga dalam sebuah buku. Dari buku tersebut, warga Lingga mencocokan benda yang mereka miliki.
Tengku pernah menjual piring seharga puluhan juta.Akhir Maret 2008, mangkuk milik Tengku dihargai Rp300 juta oleh makelar asal Malaysia.Mangkuk yang diperkirakan berumur sekitar 1.000 tahun, peninggalan Dinasti Ming itu istimewa, karena makanan yang diletakan di atasnya anti basi. “Ketika dites, santan diletakkan di atasnya selama tiga hari, dan hasilnya tidak basi,” katanya. Namun, ia menolak untuk menjualnya. Selain itu, tiga piring berusia 800 tahun peninggalan Dinasti Sung juga ditaksir ratusan juta rupiah.
Tiga piring berbeda ukuran itu bermotof ikan, sisik ikan timbul berwarna putih, menurut Tengku, itu ciri-ciri peninggalan Dihasti Sung, berdasarkan buku yang ia baca.
Keturunan Raja Lingga itu juga mengoleksi berbagai jenis uang koin tua di antaranya koin viktoria, yang pada badan koin tercantum tahun 1883. Ada juga uang satu dolat Hongkong tahun 1867. Di rumahnya, ANTARA juga melihat tiga gramophon buatan Inggris dan Amerika, produksi 1889 dan 1887. “Semuanya ditemukan di sekitar Lingga,” katanya.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar